Skip to content

Pembebasan Utang Debitor Surat Berharga

December 18, 2011

HAPUSNYA PERIKATAN PADA UMUMNYA

Pada prinsipnya suatu perikatan akan hapus dan oleh karenanya akan membebaskan debitor dari kewajiban-kewajibannya dengan salah satu dari 10 (sepuluh) cara hapusnya perikatan yang diatur dalam Pasal 1381 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek voor Indonesie) (“KUH Perdata”), yaitu karena:

  1. pembayaran (de betaling) (Pasal 1382 – 1403 KUH Perdata);
  2. penawaran pembayaran tunai diikuti oleh penitipan atau penyimpanan (de aanbod van gerede betaling gevolgd door consignatie) (Pasal 1404 – 1412 KUH Perdata);
  3. pembaharuan utang (de schuldvernieuwing/novatie) (Pasal 1434 – 1424 KUH Perdata);
  4. perjumpaan utang atau kompensasi (de schuldvergelijking/compensatie) (Pasal 1425 – 1435 KUH Perdata);
  5. percampuran utang (de schuldvermenging) (Pasal 1436 – 1437 KUH Perdata):;
  6. pembebasan utang (de kwijtschelding der schud) (Pasal 1438 – 1443 KUH Perdata);
  7. musnahnya barang yang terhutang (het vergaan vershuldigde zaak) (Pasal 1444 – 1445 KUH Perdata);
  8. kebatalan atau pembatalan (de nietigheid or de te nietdoening) (Pasal 1446 – 1456 KUH Perdata);
  9. berlakunya syarat bubar (de werking eener ontbindende voorwaarde) (Pasal 1265 – 1267 KUH Perdata); atau
  10. daluwarsa (verjaring) (Pasal 1946 – 1993 KUH Perdata).

HAPUSNYA PERIKATAN SURAT BERHARGA

Menurut Kitab Undang-undang Hukum Dagang (Wetboek van Koophandel voor Indonesie) (“KUHD”), dari kesepuluh cara hapusnya perikatan sebagaimana tersebut di atas, hanya ketentuan tentang penawaran pembayaran tunai yang diikuti oleh penyimpanan/penitipan (de aanbod van gerede betaling gevolgd door consignatie) sebagaimana diatur dalam Pasal 1404 – 1412 KUH Perdata tidak berlaku dengan cara yang sama bagi hapusnya perikatan debitor surat berharga (dalam hal ini surat wesel dan surat sanggup). Ketentuan-ketentuan selebihnya dapat dikatakan berlaku bagi hapusnya perikatan perikatan debitor surat berharga (dalam hal ini surat wesel dan surat sanggup) dengan cara yang sama.

PENAWARAN PEMBAYARAN TUNAI DIIKUTI OLEH PENYIMPANAN/PENITIPAN MENURUT KUH PERDATA DAN MENURUT KUHD BAGI SURAT WESEL DAN SURAT SANGGUP

Pasal 1404 KUH Perdata berbunyi sebagai berikut:

Indien de schuldeischer weigert zijne betaling te ontvangen, kan de schuldenaar hem aanbod van gerede betaling van het verschuldigde doen, en, bij weigering van den schuldeischer om hetzelve aan te nemen, de geldsom of zaak in geregtelijke bewaring stellen.

Zoodanig aanbod, gevolgd van bewaargeving, bevrijdt den schuldenaar, en strekt te zijnen opzigte tot betaling, mits hetzelve op eene wettige wijze gedaan zij; blijvende het alzoo in bewaring gebragte voor rekening van den schuldesicher.

Terjemahannya:

Bilamana si kreditor menolak untuk menerima pembayarannya, maka si debitor dapat menawarkan kepadanya suatu penawaran pembayaran tunai atas apa yang terhutang, dan bilamana si kreditor menolak untuk menerima penawaran pembayaran tunai tersebut, maka si debitor dapat melakukan penyimpanan/penitipan melalui pengadilan atas uang atau barang yang terhutang.

Penawaran demikian, yang diikuti oleh penitipan, membebaskan si debitor, dan berlaku baginya sebagai suatu pembayaran, dengan ketentuan bahwa penawaran tersebut dilakukan secara sah; maka kebendaan yang dititipkan tersebut tetap menjadi tanggungan si kreditor.

Pasal 141 KUHD berbunyi sebagai berikut:

Bij gebreke van aanbieding ter betaling van den wisselbrief binnen den termijn, bij artikel 137 vastgesteld, heeft elke schuldenaar de bevoegdheid, het bedrag te bevoegder plaatse in consignatie te geven, op kosten en onder verantwoordelijkheid van den houder.

Terjemahannya:

Dalam hal tidak adanya penawaran (dari pemegang surat wesel) untuk meminta pembayaran dalam jangka waktu yang ditetapkan dalam Pasal 137, maka setiap debitor (surat wesel) berwenang untuk melakukan konsinyasi pada pejabat yang berwenang, atas biaya dan di bawah tanggung jawab si pemegang.

Yang membedakan ketentuan Pasal 141 KUHD dari Pasal 1404 KUH Perdata adalah sebagai berikut:

Pasal 1404 KUH Perdata:

  1. inisiatif melakukan penawaran untuk melakukan pembayaran tunai (aanbod van gerede betaling) datang dari debitor;
  2. kreditor menolak penawaran; dan
  3. debitor melakukan konsinyasi.

Pasal 141 KUHD:

  1. inisiatif untuk meminta agar dibayar (aanbieding ter betaling) datang dari kreditor (pemegang surat wesel/surat sanggup);
  2. kreditor tidak datang untuk meminta dibayar dalam jangka waktu yang ditetapkan; dan
  3. debitor melakukan konsinyasi.

Lebih lanjut, menurut KUH Perdata, penawaran pembayaran tunai harus dilakukan oleh seorang notaris atau juru sita (Pasal 1405 angka 7) agar penawaran tersebut sah dan membebaskan si debitor, sedangkan keterlibatan notaris tidak diperlukan dalam konteks hapusnya perikatan debitor surat berharga menurut Pasal 141 KUHD.

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: